Bisnis Properti Masih Menjanjikan
Pontianak,- Pelaku bisnis tetap optimistis peluang usaha properti masih tetap terbuka lebar di tahun 2006. Keyakinan ini disandarkan pada masih banyaknya wilayah bisnis properti yang belum disentuh dan para usahawan masih mempunyai energi cukup untuk menggarap peluang tersebut. Para investor asing pun tengah menanti giliran menggarap sejumlah proyek besar yang disukai pasar. Apalagi pengusaha mendapat jaminan dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya, membuat para pelaku usaha properti menjadi lebih optimis.
Sebagaimana pernah diungkapkan Sekretaris REI Kalbar, Sabar Tambunan kepada Pontianak Post, peluang bisnis paling terbuka di antaranya adalah, pertama, perumahan kelas menengah ke bawah. Kedua, rumah- rumah sederhana dengan harga Rp 75 juta-Rp 100 juta serta rumah- rumah sehat sederhana dengan harga Rp 45 juta sampai Rp 74 juta. “Di Kalbar ini masih sangat membutuhkan perumahan, maka kita yakin kalau ada perbaikan perekonomian di Indonesia, bisnis ini akan maju sangat pesat,” katanya.
Kalau untuk apartemen, katanya, boleh dipastikan mulai dilirik banyak pihak. Dan ditambah lagi, pusat perdagangan di sini mendapat sambutan pasar yang cukup gempita. “Tetap terbukanya peluang bisnis properti otomatis memberi peluang bagi bisnis-bisnis pendukung, seperti konsultan dan ritel properti, riset, pialang, dan agen- agen properti. Industri-industri yang di antaranya berfungsi menopang bisnis ini, seperti industri semen, tegel, cat, besi beton, paku, kayu, seng, tambang pasir, toko-toko material, bahkan perbankan dan firma hukum, akan mendapatkan ruang usaha lebih leluasa,” urainya.
Pernah pula diungkapkan Sabar, properti memang bisnis yang luar biasa. “Harga setiap tahun tidak pernah turun, melainkan sebaliknya,” ucapnya. Dari itu, untuk tahun ini, kata Sabar, properti mempunyai cakupan usaha yang amat luas sehingga bergairahnya bisnis properti pada gilirannya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja. Juga, properti akan menjadi indikator penting kesehatan ekonomi sebuah negara. “Sebab, ia yang pertama memberi sinyal jatuh atau sedang bangunnya perekonomian sebuah negara. Termasuk pula di daerah, ya di Kalbar ini,” katanya.
Masih terbukanya peluang usaha properti tampak jelas pada bidang usaha tertentu, yang bagi banyak kalangan sudah amat jenuh, misalnya mal, pusat perdagangan, dan apartemen. Lebih jauh dikatakanya, pemain properti mulai menggenjot untuk menjalankan bisnisnya. Namun, di sisi lain, para pengusaha mampu mengetahui di mana ceruk pasar yang masih bisa digarap.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Ir Acui Simanjaya menambahkan, kalau ia sangat setuju dengan sikap para pemain properti yang selalu optimistis terhadap kegairahan pasar. Tahun ini, sebutnya, para investor asing akan mulai melirik potensi properti yang ada di sini. Di antara mereka tentu terdapat pemain-pemain properti.
Akui yakin bisnis ini akan lebih berkilau dan kompetitif ketika investor asing mengalir masuk. Hanya, harapnya, para pelaku bisnis properti hendaknya menyadari pula bahwa konsumen atau para pedagang selalu mudah terpukau oleh sesuatu yang baru, yang menarik, dan yang memberi banyak inspirasi. Masalah ini sebetulnya cukup mendapat perhatian para pebisnis, tetapi pengaplikasiannya yang tidak konsisten.(ynt)
Pelaku bisnis tetap optimistis peluang usaha properti masih tetap terbuka lebar di tahun 2006. Keyakinan ini disandarkan pada masih banyaknya wilayah bisnis properti yang belum disentuh dan para usahawan masih mempunyai energi cukup untuk menggarap peluang tersebut. Para investor asing pun tengah menanti giliran menggarap sejumlah proyek besar yang disukai pasar. Apalagi pengusaha mendapat jaminan dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya, membuat para pelaku usaha properti menjadi lebih optimis.
Sebagaimana pernah diungkapkan Sekretaris REI Kalbar, Sabar Tambunan kepada Pontianak Post, peluang bisnis paling terbuka di antaranya adalah, pertama, perumahan kelas menengah ke bawah. Kedua, rumah- rumah sederhana dengan harga Rp 75 juta-Rp 100 juta serta rumah- rumah sehat sederhana dengan harga Rp 45 juta sampai Rp 74 juta. “Di Kalbar ini masih sangat membutuhkan perumahan, maka kita yakin kalau ada perbaikan perekonomian di Indonesia, bisnis ini akan maju sangat pesat,” katanya.
Kalau untuk apartemen, katanya, boleh dipastikan mulai dilirik banyak pihak. Dan ditambah lagi, pusat perdagangan di sini mendapat sambutan pasar yang cukup gempita. “Tetap terbukanya peluang bisnis properti otomatis memberi peluang bagi bisnis-bisnis pendukung, seperti konsultan dan ritel properti, riset, pialang, dan agen- agen properti. Industri-industri yang di antaranya berfungsi menopang bisnis ini, seperti industri semen, tegel, cat, besi beton, paku, kayu, seng, tambang pasir, toko-toko material, bahkan perbankan dan firma hukum, akan mendapatkan ruang usaha lebih leluasa,” urainya.
Pernah pula diungkapkan Sabar, properti memang bisnis yang luar biasa. “Harga setiap tahun tidak pernah turun, melainkan sebaliknya,” ucapnya. Dari itu, untuk tahun ini, kata Sabar, properti mempunyai cakupan usaha yang amat luas sehingga bergairahnya bisnis properti pada gilirannya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja. Juga, properti akan menjadi indikator penting kesehatan ekonomi sebuah negara. “Sebab, ia yang pertama memberi sinyal jatuh atau sedang bangunnya perekonomian sebuah negara. Termasuk pula di daerah, ya di Kalbar ini,” katanya.
Masih terbukanya peluang usaha properti tampak jelas pada bidang usaha tertentu, yang bagi banyak kalangan sudah amat jenuh, misalnya mal, pusat perdagangan, dan apartemen. Lebih jauh dikatakanya, pemain properti mulai menggenjot untuk menjalankan bisnisnya. Namun, di sisi lain, para pengusaha mampu mengetahui di mana ceruk pasar yang masih bisa digarap.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Ir Acui Simanjaya menambahkan, kalau ia sangat setuju dengan sikap para pemain properti yang selalu optimistis terhadap kegairahan pasar. Tahun ini, sebutnya, para investor asing akan mulai melirik potensi properti yang ada di sini. Di antara mereka tentu terdapat pemain-pemain properti.
Acui yakin bisnis ini akan lebih berkilau dan kompetitif ketika investor asing mengalir masuk. Hanya, harapnya, para pelaku bisnis properti hendaknya menyadari pula bahwa konsumen atau para pedagang selalu mudah terpukau oleh sesuatu yang baru, yang menarik, dan yang memberi banyak inspirasi. Masalah ini sebetulnya cukup mendapat perhatian para pebisnis, tetapi pengaplikasiannya yang tidak konsisten.(ynt)
sumber : arsip.pontianakpost.com