jual gudang, sewa gudang

Pasar Property Masih Menjanjikan

AKARTA-Pemerintah memperkirakan dengan kemampuan yang dimiliki saat ini membutuhkan waktu sampai 16 tahun untuk membangun rumah bagi delapan juta keluarga di Indonesia.

”Angka ini belum dihitung dari pertambahan penduduk dan kebutuhan perumahan,” kata Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Zulfi Syarif Koto di Jakarta, Selasa (20/1), dalam seminar ’Housing Estate’ bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) bertema “Pospek Bisnis Properti 2010 dan Pembiayaannya”.

Zulfi Syarif Koto memperkirakan produksi rumah saat ini hanya mampu 500.000 unit setiap tahun, padahal dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,6 persen per tahun dan rata-rata rasio penghuni 4,4 jiwa per rumah “Apabila ditambah kebutuhan akibat bencana alam dan lain-lain sebesar satu persen, maka dalam satu tahun harus dibangun 1,6 juta unit rumah. Persoalannya bagaimana menemukan sumber finansial untuk pembiayaan membangun perumahan itu,” katanya.
Menurut dia, saat ini pemerintah tengah mempertimbangkan membangun sistem tabungan rakyat untuk perumahan karena anggaran pemerintah untuk sektor ini sangat kecil.

Sementara itu Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu mengatakan dari total anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, perumahan hanya mendapat bagian dua persen saja. Sementara yang terbesar masih dianggarkan untuk bidang pekerjaan umum dan transportasi.

“Dari tahun 2000 sampai 2005, APBN hanya mengalokasikan Rp100 triliun untuk anggaran infrastruktur, dan dari nilai tersebut alokasi untuk real estat (perumahan) sekitar tiga persen, dan tidak berubah alokasinya untuk tahun ini,” ujar Anggito.

Menurut data Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, saat ini 21 persen dari produk domestik bruto (PDB) dianggarkan untuk sektor infrastruktur. Sementara pada 2005 anggaran tersebut hanya 18 persen.

Dari alokasi ini komposisi terbesar dihabiskan untuk konstruksi sebesar 10 persen, pengangkutan tujuh persen dan real estat sekitar tiga persen, katanya. (*)