Tampilkan postingan dengan label pasar property. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar property. Tampilkan semua postingan

Pasar Property 2010 Meningkat 5 Persen


Pasar konstruksi tahun ini bisa naik mencapai 5 persen dari 2009, dari Rp 171,52 triliun menjadi Rp 180 triliun.

Gabungan Pelaksana Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi) memperkirakan, dari Rp 180 triliun tersebut, porsi proyek pemerintah mencapai 52 persen atau Rp 93,6 triliun. Sementara Rp 86,4 triliun sisanya akan diperoleh dari proyek-proyek swasta.

Kenaikan pasar konstruksi ini bisa dimanfaatkan oleh badan usaha jasa konstruksi nasional karena merupakan peluang yang sangat besar. Menurut Soeharsojo, kontraktor kecil harus pandai memanfaatkan peluang proyek dengan menerapkan kebijakan sistem pembagian proyek (slice packaging).

Kebijakan sistem pembagian proyek (slice packaging) akan membantu kontraktor kecil untuk tetap bertahan dalam persaingan. Sebab, perusahaan kecil, tentu tidak bisa ikut menggarap proyek berskala besar.

Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya Tbk Kurnadi Gularso bilang, prospek bisnis konstruksi tahun ini memang terbilang cerah. Ini terlihat dari prognosa bisnis yang disusun Adhi Karya.

Pada prognosa itu, Adhi Karya menargetkan tahun ini bisa memperoleh kontrak senilai Rp 8,6 triliun, naik 14,7 persen dari perkiraan 2009 sebesar Rp 7,5 triliun. Adhi Karya juga memperkirakan bisa mencetak laba sebesar Rp 140 miliar tahun ini. Ini lebih tinggi sekitar Rp 20 miliar, dibandingkan prognosa 2009, sebesar Rp 120 miliar.

"Jadi terlihat pertumbuhannya. Memang kami masih menggunakan prognosa untuk angka 2009 karena saat ini masih diaudit," ujar Kurnadi.

Adhi Karya membidik proyek infrastruktur, seperti jalan tol dan pembangkit listrik. Saat ini emiten yang di bursa dikenal dengan kode saham ADHI ini tengah menyelesaikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x100 Megawatt (MW) di Lampung. Di luar negeri, Adhi sedang menyelesaikan proyek Tilal Complex di Oman senilai Rp 969 miliar. "Ini ditargetkan selesai tahun 2010," kata Kurnadi.

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (Wika), Natal Argawan Pardede mengatakan, prospek bisnis konstruksi tahun ini lebih bergairah ketimbang tahun lalu. Pasalnya, pemerintah menggiatkan pembangunan infrastruktur dalam program 100 hari. Tak heran, tahun ini Wika menargetkan pertumbuhan 7 persen dari tahun lalu.

Dari keseluruhan kontrak yang sudah didapat perusahaan yang di bursa dikenal dengan kode saham WIKA ini, sekitar 70 persen merupakan proyek pemerintah. Sisanya adalah proyek swasta. “Untuk proyek pemerintah itu, termasuk dari APBN, APBD, dan belanja modal (capex) BUMN,” kata Natal lagi.

Tahun ini, Wika berencana memperbesar proyek di sektor energi, seperti kelistrikan, minyak dan gas, ketimbang sektor-sektor lainnya.
READ MORE - Pasar Property 2010 Meningkat 5 Persen

Pasar Property Marak di 2010

JAKARTA - Aktivitas sewa dan pembelian properti diperkirakan baru akan marak pada tahun depan.Saat ini,konsumen masih menunggu situasi yang benar-benar aman untuk melakukan investasi.

"Selama 2009,calon konsumen masih wait and see. Komitmen dari calon tenantjuga kebanyakan baru terealisasi pada 2010," kata Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia Lucy Rumantir di Jakarta kemarin. Menurut dia, pada tahun ini, meskipun kondisi perekonomian nasional menunjukkan perbaikan dan mengarah pada kinerja yang positif,calon konsumen masih tetap ingin memastikan saat yang tepat dan tidak ingin mengambil risiko.

Dari data konsumen yang berhubungan dengan Jones Lang LaSalle, diketahui sudah terdapat komitmen untuk melakukan kegiatan sewa dan pembelian pada 2010 mendatang. Sementara pada 2009, mereka baru mengutarakan minatnya dan baru akan terealisasi pada tahun depan.

Lucy mengatakan, pasar properti 2009 secara umum mengalami penurunan permintaan karena kondisi ekonomi yang melemah akibat krisis global. Namun, dia mengatakan akan bangkit mengikuti pertumbuhan ekonomi."Dari segi harga, properti berpotensi rebound pada 2010,"kata dia. Menurut dia, subsektor yang diperkirakan mengalami pemulihan paling awal adalah perkantoran komersial.

Kemudian diikuti subsektor pusat perbelanjaan sewa dan apartemen sewa.Keduanya diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sampai 2011. Sementara untuk pasar kondominium dianggap sebagai pasar yang paling elastis terhadap perubahan ekonomi, khususnya yang menyangkut kecenderungan suku bunga.

"Seiring dengan penurunan suku bunga pinjaman dan deposito, tingkat penjualan dan minat investasi di subsektor ini diperkirakan akan meningkat secara signifikan tahun depan,"katanya. Lucy mengatakan, dengan tingkat pertumbuhan yang berbedabeda di setiap sektor,investor perlu lebih jeli dalam membaca arah perkembangan pasar serta menganalisis kompetisi.

Untuk itu,yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan strategi dan antisipasi yang tepat guna memanfaatkan secara maksimal gelombang pertumbuhan ini. Sementara itu, Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus mengatakan, sampai akhir semester I-2009, pasar properti masih diselimuti penurunan permintaan di hampir semua sektor."Sebagai contoh, perkantoran di CBD (central business district) mengalami penurunan terbesar hingga 70 persen selama semester I," katanya.

Dia menjelaskan, tingkat penurunan ini sudah diperkirakan sebelumnya,yakni sebagai dampak dari krisis ekonomi global.Kondisi ini berimbas pada melemahnya ekonomi dalam negeri sehingga pasar properti kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang rendah sampai akhir 2009.

Namun, Anton menjelaskan, seiring kondisi perekonomian yang membaik,yang terindikasi dengan mulai bangkitnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dengan pertumbuhan tertinggi di bawah China, nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan paling tinggi dibandingkan dengan mata uang regional.

Sementara itu, pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan, tahun ini merupakan masa transisi di sektor properti nasional untuk menuju masa kebangkitan pada 2010 nanti. "Tahun 2009 adalah masa pemulihan untuk menuju sektor properti yang lebih bergairah di tahun mendatang," katanya.

Menurutnya, alasan bahwa 2010 diyakini sebagai tahun kebangkitan adalah terbentuknya kabinet baru oleh pemerintah yang menandakan pemerintah akan mulai bekerja dengan semangat baru. Demikian pula dengan tingkat suku bunga bank yang diperkirakan semakin rendah dan kondisi ekonomi dunia yang pada 2010 diperkirakan pulih sehingga akan ikut memicu properti nasional semakin bergairah.
READ MORE - Pasar Property Marak di 2010

Pasar Property Masih Menjanjikan

AKARTA-Pemerintah memperkirakan dengan kemampuan yang dimiliki saat ini membutuhkan waktu sampai 16 tahun untuk membangun rumah bagi delapan juta keluarga di Indonesia.

”Angka ini belum dihitung dari pertambahan penduduk dan kebutuhan perumahan,” kata Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Zulfi Syarif Koto di Jakarta, Selasa (20/1), dalam seminar ’Housing Estate’ bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) bertema “Pospek Bisnis Properti 2010 dan Pembiayaannya”.

Zulfi Syarif Koto memperkirakan produksi rumah saat ini hanya mampu 500.000 unit setiap tahun, padahal dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,6 persen per tahun dan rata-rata rasio penghuni 4,4 jiwa per rumah “Apabila ditambah kebutuhan akibat bencana alam dan lain-lain sebesar satu persen, maka dalam satu tahun harus dibangun 1,6 juta unit rumah. Persoalannya bagaimana menemukan sumber finansial untuk pembiayaan membangun perumahan itu,” katanya.
Menurut dia, saat ini pemerintah tengah mempertimbangkan membangun sistem tabungan rakyat untuk perumahan karena anggaran pemerintah untuk sektor ini sangat kecil.

Sementara itu Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu mengatakan dari total anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, perumahan hanya mendapat bagian dua persen saja. Sementara yang terbesar masih dianggarkan untuk bidang pekerjaan umum dan transportasi.

“Dari tahun 2000 sampai 2005, APBN hanya mengalokasikan Rp100 triliun untuk anggaran infrastruktur, dan dari nilai tersebut alokasi untuk real estat (perumahan) sekitar tiga persen, dan tidak berubah alokasinya untuk tahun ini,” ujar Anggito.

Menurut data Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, saat ini 21 persen dari produk domestik bruto (PDB) dianggarkan untuk sektor infrastruktur. Sementara pada 2005 anggaran tersebut hanya 18 persen.

Dari alokasi ini komposisi terbesar dihabiskan untuk konstruksi sebesar 10 persen, pengangkutan tujuh persen dan real estat sekitar tiga persen, katanya. (*)
READ MORE - Pasar Property Masih Menjanjikan