Tampilkan postingan dengan label KPR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KPR. Tampilkan semua postingan

Beli Property,Nggak Pakai Duit Tapi Dapat Duit,tiap bulan cuma bayar bunga aja,Setelah 10 tahun dilunasin orang?

[caption id="" align="alignleft" width="425" caption="gambar property for sale"]investasi bagus property dijual[/caption]
Bagi sebuah Bank, seseorang bisa dikatakan layak untuk diberi Kredit apabila bisa memenuhi 4C:

1. CREDIT CAPACITY

Credit Capacity adalah nilai ekonomis seseorang untuk mengangsur kreditnya di bank yg besarnya adalah:

1/3 x besaran gaji/pengasilan bersih per bulan

kita sebagai entrepreneur akan menjadikan faktor Credit Capacity ini isue yg paling penting, karena :
> sbg prasyarat pengajuan kredit, besarnya penghasilan yg terwakili oleh cashflow perusahaan ini juga merupakan “nafas” perusahaan.
> sampai ada pepatah “cashflow is the king, profit is the queen“

2. CREDIT HISTORY

adalah riwayat performance kredit seseorang yg saat ini sdh online dari bank seluruh indonesia ke BI, proses untk mengetahui Credit History ini namanya BI CHECKING, yaitu dgn mengecek riwayat kredit seseorang yg telah pernah mengajukan kredit ke lembaga keuangan baik bank atau non bank yg datanya di catat dgn rapi di kantor BI (Bank Indonesia)

3. COLLATERAL

adalah jaminan yg anda agunkan ke bank sbg salah satu syarat pencairan kredit. jaminan ini bisa berupa : sertifikat, BPKB, saham, cash collateral
dll . Selain aspek finansial berupa agunan tsb diatas, aspek legalitas usaha kita juga bisa kita masukkan dalam kategori ini. Anda sudah bisa dikatakan mempunyai perijinan lengkap apabila memenuhi kriteria sudah memiliki:
> Akta Pendirian Badan Usaha = UD, CV atau PT & SK Pengesahan Menhukham


> NPWP


> SIUP, TDP


> rek koran di bank


> HO, PKP, Ijin Prinsip, Ijin Lokasi dll (opsional, apabila dibutuhkan)




4. CHARACTER

adalah penilaian bank terhadap profile pribadi kita dimata masyarakat dan kesesuaian dgn norma2 umum yg berlaku di masyarakat. katakan anda itu seorang yg dikenal penipu, terkenal sbg pengemplang utang atau mantan teroris yg telah tobat, bank pun masih akan berpikir seribu kali untuk memberikan kredit kepada anda kan?

Selain internal diri anda bank juga akan melihat faktor eksternal, apakah usaha anda masih prospektif untuk didanai dgn proyeksi ke depan selama masa kreditnya diberikan kepada anda, dgn patokan penilaian kreteria yg berlaku pada saat itu. Dengan memiliki semua hal tsb diatas anda sudah dikatakan LAYAK dan bisa langsung ajukan kredit KPR di bank manapun, asal anda juga sudah mempersiapkan dan menyertakan pembukuan anda minimal 3 bulan terakhir, idealnya 6 bulan terakhir.

Dari sudut pandang ENTREPRENEUR ada 2 macam KPR yg tidak akan dipahami oleh orang lain diluar profesi mulia tsb karena merupakan golongan TDA (Tangan Di Atas)
Kita akan tahu bedanya seseorang berada di golongan mana pada waktu mereka mengajukan aplikasi KPR nya ke bank :

1. KPR buat : Karyawan / Self Employee / Pekerja Profesional
mereka akan begitu sibuknya mendatangi setiap bank untuk membanding bandingkan mana yang suku bunganya paling murah, biaya administrasi, biaya2 lainnya dan asuransinya paling ringan, dibanding2kan dengan njelimet bahkan karena selisih seribu rupiah pun mereka akan berpaling ke bank yg lain walaupun bisa jadi bank tersebut memberikan pelayanan yg kurang ramah, syarat yg lebih berat dsbnya.

pertanyaan utama golongan ini adalah : “cicilan saya berapa rupiah perbulan? cukupkah angsuran tsb apabila dibandingkan dengan gaji saya yg ga seberapa dan relatif stabil jumlahnya?”

2. KPR buat : Entrepreneur / Investor / Orang Kaya
mereka juga akan begitu sibuknya mendatangi setiap bank untuk membanding bandingkan mana yang akan memberikan :
1. cashback tunai yg akan dipakai sbg modal kerja dgn bunga murah (bandingkan dgn PRK & KMG)
2. bisa beli properti dgn tanpa DP, sehingga resiko kredit dia relatif = nol
3. bisa peroleh cashflow sbg pendapatan paling optimal atas sewa properti tsb (property income)
4. potensi capital gain (keuntungan waktu dijual dibandingkan harga beli, karena anda membeli aset real yg membayarkan dgn uang fiat)
5. financial image berupa good track record dimana tiap kali berhutang jumlahnya harus selalu nambah sehingga makin memperbesar likuiditas usahanya.

pertanyaan golongan ini adalah : “bagaimana saya bisa semakin bahagia dan kaya dengan mengalihkan resiko saya kepada pihak lain dengan cara “bermain cantik”?” setelah beli properti ini, ini, ini, itu, itu dstnya usaha apa aja yang bisa sy buka disana?
anda selama ini termasuk golongan yang mana?
idealnya dalam hati kecil anda mau bertekad menjadi golongan yang mana? so segera ajukan KPR anda.
READ MORE - Beli Property,Nggak Pakai Duit Tapi Dapat Duit,tiap bulan cuma bayar bunga aja,Setelah 10 tahun dilunasin orang?

Strategi Mengambil Kredit Kepemilikan Rumah

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 697/XIV

Dua nomor lalu kita telah membahas tentang persiapan apa yang harus Anda lakukan bila ingin membeli rumah. Sekarang, kita akan membahas tentang apa yang harus Anda lakukan bila Anda ingin membeli rumah secara kredit.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, pembelian rumah bisa dilakukan dengan dua macam cara: tunai maupun kredit. Anda bisa membeli rumah secara tunai bila Anda memiliki uang yang nilainya sama dengan harga rumah yang Anda inginkan. Sebagai contoh, bila harga rumah adalah Rp 100 juta (bangunan plus tanah), maka Anda bisa membeli rumah tersebut secara tunai bila Anda memang punya uang tunai sebesar Rp 100 juta.

Masalahnya, kebanyakan keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke bawah seringkali tidak memiliki uang tunai sebanyak itu. Jumlah uang tunai yang mereka punya mungkin hanya 60%-nya, 40%-nya, atau bahkan mungkin cuma 30%-nya. Lalu bagaimana solusinya? Solusinya adalah dengan membeli rumah tersebut secara kredit.

Sekarang, bisa tidak Anda mengambil kredit? Kalau Anda datang ke bank, maka bank biasanya memiliki produk kredit yang bisa dimanfaatkan untuk membeli rumah. Nama produk ini adalah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Untuk bisa mengambil KPR, maka bank biasanya tidak akan mau membayari rumah Anda 100%. Mereka hanya akan membayari rumah Anda sekitar 70% dari harga rumah, sisanya yang 30% harus Anda bayar sendiri dari kantong Anda.

Bagaimana caranya? Kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, maka Anda harus membayar dulu 30%-nya dari kantong Anda (dalam contoh ini berarti Rp 30 juta). Setelah itu, barulah bank akan melunasi sisanya yang 70% (yaitu Rp 70 juta). Disini, jumlah 30% yang Anda bayar dianggap oleh bank sebagai Uang Muka (Down Payment = DP), dan jumlah 70% yang dipinjamkan bank untuk membayar sisa harga rumah akan menjadi hutang bagi Anda yang harus Anda cicil pembayarannya, tentunya disertai dengan bunga.

Pertanyaan berikutnya, apakah Anda punya dana yang cukup untuk membayar Uang Muka yang 30% itu? Kalau ya, bagus. Ini berarti Anda tinggal melanjutkan ke langkah yang berikutnya, yaitu mengajukan Permohonan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) ke bank. Tetapi bagaimana bila Anda tidak memiliki dana untuk membayar Uang Muka tersebut? Ini berarti Anda harus menabungnya terlebih dahulu, dan jangan memaksakan diri untuk mengajukan Permohonan KPR sekarang juga. Ingat sekali lagi, bank hanya akan memberikan kredit bila Anda mau membayar jumlah sebesar 30%-nya terlebih dahulu. Kalau Anda tidak punya uang yang 30%-nya itu, maka Anda harus menabungnya lebih dulu.


Mengajukan Permohonan KPR ke Bank

Oke, Anda sudah melihat-lihat rumah dan sudah tahu harganya. Anda juga sudah menghitung bahwa Anda punya cukup dana untuk bisa membayar porsi yang 30% sebagai Uang Muka Rumah. Sekarang, Anda memutuskan untuk mengajukan Permohonan KPR kepada bank.

Pada saat ini, sebagian besar bank pada umumnya menyediakan fasilitas KPR. Anda bisa datang ke salah satu bank yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal Anda, datang ke Customer Service-nya dan mengutarakan maksud Anda. Mereka biasanya akan menyerahkan sebuah Formulir Permohonan KPR untuk Anda bawa pulang dan isi, untuk lalu diserahkan lagi kepada bank. Di situlah bank akan membaca jawaban Anda dan menganalisanya.

O ya, tidak semua Permohonan KPR dari calon nasabah akan diterima oleh bank. Ini karena bank biasanya mempunyai kriteria sendiri dalam meluluskan Formulir Permohonan KPR yang masuk kepada mereka. Apa saja kriterianya?

1. Orang tersebut harus berusia maksimal 50 tahun ketika mengajukan Permohonan KPR kepada bank.

2. Orang yang bersangkutan harus sudah bekerja dan memiliki penghasilan, yang dibuktikan dengan adanya dokumen-dokumen tertentu. Penghasilan tersebut minimal besarnya harus 3 kali dari jumlah cicilan KPR yang diinginkan tiap bulannya, bila KPR tersebut diluluskan

3. Bila orang itu pernah memiliki hutang di tempat lain, maka orang itu harus memiliki sejarah pembayaran kredit yang baik di sana, terutama pada masa duabelas bulan terakhir.


Strategi agar Permohonan KPR Bisa Diterima

Nah, melihat kriteria-kriteria tersebut, ada baiknya kalau Anda memiliki strategi khusus sebelum mengajukan Permohonan KPR kepada bank. Tujuannya agar Permohonan KPR Anda bisa diluluskan oleh pihak bank. Karena itu, ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR kepada bank:

1. Siapkan dokumen keuangan yang diperlukan:

Siapkan dokumen keuangan yang pasti (atau hampir pasti) akan diminta oleh pihak bank. Apa itu? Bila Anda adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:

a. Surat Keterangan Bekerja di Perusahaan (minimal Anda harus sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 2 tahun)
b. Slip Gaji Asli
c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)

Bila Anda adalah seorang wiraswastawan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:

a. Daftar Pelanggan Anda (bila memungkinkan)
b. Daftar Pemasok Anda (bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
c. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
d. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
e. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
f. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) ­ bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
g. TDP (Tanda Daftar Perusahaan)

Bila Anda adalah seorang profesional, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:
a. Daftar Pelanggan atau klien Anda (bila memungkinkan)
b. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
d. NPWP
e. Surat Izin Praktek (untuk beberapa profesi tertentu)

2. Siapkan kelengkapan dokumen dari jaminan yang akan diajukan

Bila Anda membeli rumah secara kredit, maka rumah yang akan dibeli tersebut biasanya akan diminta oleh bank untuk dijaminkan kepada mereka. Ini berarti, apabila Anda tidak bisa meneruskan pembayaran cicilan KPR Anda (macet dan tidak ada penyelesaiannya), maka rumah itu akan disita oleh bank untuk mengganti sisa hutang yang belum Anda bayar.

Itulah sebabnya, adalah penting bagi bank untuk memeriksa lebih dulu kelengkapan dokumen dari rumah yang akan dijaminkan tersebut. Apa saja dokumen itu?

a. Sertifikat Tanah
b. Sertifikat IMB + Blue Print (cetak biru gambar rumah tersebut)
c. SPPT PBB Tahun terakhir

Dengan demikian, selama Anda membayar Cicilan KPR Anda, maka dokumen-dokumen tersebut akan disimpan oleh bank sampai cicilan KPR Anda lunas. Jadi, pastikan Anda mengecek terlebih dahulu kelengkapan dari dokumen-dokumen tersebut sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR Anda kepada bank.

3. Perbaiki Penampilan Keuangan Anda

Anda juga perlu memperbaiki penampilan keuangan Anda agar bank bisa menangkap "kesan" yang baik terhadap keuangan Anda. Dengan memperbaiki penampilan keuangan Anda, maka akan makin besar kemungkinannya bahwa bank akan menerima permohonan KPR Anda. Karena itu, di bawah ini adalah sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam memperbaiki penampilan keuangan Anda:

a. Perbaiki Catatan Rekening Bank yang Anda miliki.

Bila Anda bekerja sebagai karyawan, bank akan meminta slip gaji sebagai bukti bahwa Anda memang memiliki penghasilan sebesar jumlah tertentu setiap bulannya. Namun demikian, jangan lupa bahwa bank mungkin tidak akan percaya begitu saja kepada slip gaji tersebut. Bank biasanya masih akan meminta catatan rekening bank Anda (biasanya berupa laporan rekening koran atau buku tabungan) untuk membuktikan apakah memang benar ada uang masuk sejumlah nilai yang persis sama seperti apa yang tercantum dalam slip gaji Anda.

Sekarang, bila Anda biasa mendapatkan penghasilan secara tunai (bukan transfer), (entah apakah Anda bekerja sebagai karyawan, profesional, atau wiraswastawan) maka usahakan untuk menyetorkan penghasilan tersebut lebih dulu ke rekening Anda, sebelum Anda menggunakannya untuk membayar pengeluaran Anda sehari-hari. Dengan demikian, bank dapat membuktikan bahwa Anda memang memiliki penghasilan secara rutin sebesar minimal sekian rupiah setiap bulannya.

Dan, kalau bisa, usahakan agar catatan rekening bank tersebut menunjukkan adanya pemasukan sekitar minimal tiga sampai enam bulan terakhir penghasilan Anda.

b. Lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.

Kalau Anda punya hutang di tempat lain (seperti Hutang Kartu Kredit atau hutang kepada bank lain), usahakan agar pembayaran tagihannya tidak sampai macet. Sebagai informasi saja untuk Anda, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri dalam memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah Anda pernah macet atau tidak dalam membayar hutang di tempat lain. Jika diperkirakan bahwa Anda pernah macet dalam membayar hutang Anda di tempat lain, bisa-bisa permohonan kredit Anda akan ditolak karena bank takut hal yang sama bisa terulang kepada mereka. Jadi sekali lagi, lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.

Nah, sekarang bagaimana bila Anda ternyata pernah macet dalam membayar tagihan hutang di tempat lain? Kalau itu baru-baru saja terjadi, maka Anda sebaiknya menunda permohonan KPR Anda dan melancarkan dulu pembayaran hutang di tempat lain itu sampai dengan - paling tidak ­ duabelas bulan ke depan. Setelah duabelas bulan, baru ajukan lagi permohonan KPR Anda kepada bank, karena ­ walaupun Anda pernah punya tagihan macet di tempat lain, tapi ­ diharapkan kondisi keuangan Anda sudah baik kembali dalam duabelas bulan itu. Sekali lagi, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri untuk memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah baru-baru ini Anda pernah macet dalam membayar hutang di tempat lain.

c. Atur proporsi cicilan hutang Anda.

Perhatikan bahwa bank ­ mungkin - akan menolak Permohonan KPR Anda bila total cicilan hutang Anda (termasuk cicilan KPR Anda apabila diluluskan) adalah sebesar sepertiga (atau sekitar 33%) dari penghasilan Anda.

Sebagai contoh, bila penghasilan rutin Anda Rp 2 juta per bulan, lalu tiap bulan, Anda mencicil ini dan itu di tempat lain sebesar ­ sekitar ­ Rp 600 ribu setiap bulan. Ini berarti, total cicilan hutang Anda setiap bulan sudah memakan sekitar 30% dari penghasilan rutin Anda yang Rp 2 juta per bulan. Nah, andaikata permohonan KPR Anda diterima oleh bank dan Anda harus membayar tambahan cicilan KPR sebesar misalnya Rp 400 ribu sebulan, maka ini berarti total cicilan hutang Anda adalah Rp 1 juta (atau memakan porsi sekitar 50% dari Penghasilan Rutin Anda). Di sinilah bank mungkin akan menolak Permohonan KPR Anda.

Ini karena bank berpendapat bahwa bila total cicilan hutang Anda memakan porsi yang lebih besar daripada sepertiga penghasilan rutin Anda, maka bank "takut" bahwa Anda jadi kesulitan membayar pengeluaran rumah tangga Anda yang lain, sehingga ­ mungkin ­ akan tergoda untuk mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan KPR. Buntutnya, ditakutkan cicilan KPR tidak bisa terbayar setiap bulannya karena uangnya dipakai untuk membayar pengeluaran rumah tangga.

Jadi bila pada saat ini Anda sudah punya Cicilan Hutang yang totalnya sudah mencapai 33% dari penghasilan rutin Anda, jangan harap permohonan KPR Anda bisa diterima. Kurangi dulu porsi cicilan hutang yang 33% tersebut, baru Anda bisa mengharapkan agar Permohonan KPR Anda bisa diterima. Sekali lagi, bagi bank, Cicilan semua hutang Anda, plus cicilan KPR Anda (apabila diluluskan), harus memakan porsi maksimal sebesar 1/3 atau 33% dari Penghasilan Rutin Anda.
READ MORE - Strategi Mengambil Kredit Kepemilikan Rumah

INVESTASI PROPERTY MELALUI KPR

KPR adalah Kredit Pemilikan Rumah. Selain untuk membeli rumah, juga Ruko. Tujuan utama KPR sebenarnya, untuk mereka yang membeli rumah dengan tujuan ditempati. KPR rumah sederhana bahkan disubsidi bunga dan pajaknya oleh pemerintah.

Semua properti, termasuk rumah adalah investasi jangka panjang. Masyarakat menengah dan menengah keatas yang telah memiliki rumah, membeli properti (rumah) sebagai investasi. Sebagian malah berspekulasi di properti. Membeli dengan harga yang murah dan menjual kembali dengan keuntungan.

Dana KPR bisa digunakan untuk membeli rumah kedua, ketiga dan seterusnya. Bank memberi batasan dana yang harus disediakan dalam bentuk uang muka, 20% - 30%. Penilaian properti dilakukan appraisal Bank. Kalau penilaian dari Bank cukup tinggi, uang muka yang disediakan bisa berkurang. Demikian sebaliknya, calon nasabah KPR perlu memiliki uang muka lebih besar, bila penilaian Bank agak rendah.

Bila dana pinjaman KPR yang diluncurkan Bank lebih besar dari harga transaksi, berarti investor mendapatkan kelebihan dana. Pinjaman KPR bisa melampaui harga jual-beli kalau investor mendapatkan rumah yang bagus dan sangat murah. Besarnya kredit KPR yang didapat, bukan hanya tergantung pada nilai rumah yang dibeli. Catatan sejarah kredit dari calon nasabah sangat berpengaruh. Rekor buruk berupa kredit macet dimasa lalu, bahkan tunggakan kartu kredit akan menghambat permohonan KPR.

Kemampuan nasabah membayar cicilan KPR dinilai berdasarkan penghasilannya. Bank paling suka pada mereka yang berpenghasilan tetap. Sekitar 30% dari penghasilan suami & istri boleh dipakai untuk angsuran KPR. Mereka yang berprofesi dengan penghasilan yang tidak tetap lebih sulit mendapatkan KPR.

Kondisi bisnis, peluang bisnisnya dan masa kerja dari calon nasabah juga berpengaruh pada persetujuan KPR. Banyaknya dana yang masuk dalam rekening giro atau tabungan, selisih cash flow setiap bulan. Diukur oleh bank dengan mempelajari rekening koran 3 - 6 bulan terakhir pemohon KPR.

Proses pengajuan dan pencairan KPR demikian ketat. Apakah mungkin kita menggunakan dana KPR untuk tujuan investasi ? Mungkin saja.
Tergantung, siapa Anda (sebagai investor) ?
- Berapa besar penghasilan dan pendapatan bulanan Anda ?
- Seberapa aman / stabil penghasilan dan pendapatan Anda ?
- Apakah Anda punya cacat kepercayaan di "mata" Bank ?
- Apakah rumah / ruko yang dibeli nilainya memadai dibanding kredit yang diajukan ?
- Berapa modal / uang muka Anda dalam pembelian rumah tersebut ?

Kesimpulan : Bukan sembarang orang bisa mendapat KPR.

Kalaupun dana KPR mampu diperoleh, Apakah investasi tersebut akan menguntungkan ?
Investasi rumah dalam jangka panjang, lebih dari sepuluh tahun, hampir pasti menguntungkan. Tentu lokasi tetap harus dipertimbangkan.

Investasi rumah dalam jangka menengah, 5 - 10 tahun, sangat dipengaruhi oleh "timing" (Saat yang tepat). Dalam siklus bisnis properti dikenal masa "booming properti", "menurun", "stagnan" dan "menanjak". Siklusnya sekitar 10 tahunan.

Investasi rumah dalam jangka pendek, kurang dari 3 tahun. Pertimbangan harus hati-hati, bila tidak ingin merugi. Paling baik adalah membeli dengan harga murah. Cari penjual yang memang terdesak secara keuangan, mau menjual cepat dan murah.

Investasi rumah dengan spekulasi, membeli dan menjual kurang dari 1 tahun. Pertimbangan "timing". Periode "booming properti" saat yang tepat melakukan spekulasi.

Kesimpulan : Investasi rumah dengan pinjaman KPR terbeban beberapa biaya. Biaya perjanjian kredit, pajak sebagai pembeli (BPHTB), sebagai penjual (PPh) dan biaya pemasangan hak tanggungan transaksi melalui agen properti, biaya komisi dan biaya notaries / PPAT.

Biaya dan pajak mengurangi keuntungan investor, bahkan bisa merugi. Investasi rumah membutuhkan waktu yang tepat, lokasi yang bagus dan perhitungan yang cermat. Tambahkan dana renovasi dan strategi pemasaran dari agen properti yang professional, membuka peluang lebih besar, untung.
Perhitungan kasar biaya + pajak + komisi sekitar 15%. Keuntungan baru bisa diperoleh bila kapital gain yang diraih lebih dsri 15%.

Kesimpulan : Investasi rumah melalui KPR tidak bisa spekulatif, tapi jangka panjang.

Bagaimana dengan investasi rumah yang memberikan penghasilan bulanan (misal rumah kos) ? Properti berupa rumah kos, sebetulnya yang dibayar bukan hanya nilai rumah tapi termasuk potensi bisnis kosnya. Kerugian dari bisnis kosnya, akan mempengaruhi kemampuan mengangsur. Kalau okupansi bagus, hasilnya akan meningkatkan kemampuan membayar kreditnya dan keuntungan investasi lebih besar.

Kesimpulan : Investasi rumah yang memberikan penghasilan bulanan (Rumah kos), hanya bisa dilakukan oleh orang yang bisa memperoleh dana KPR, karena mampu memenuhi kriteria Bank, seperti yang telah dijelaskan diatas. Investasi rumah kos bukan tanpa resiko. Punya kemampuan mengelola dan bersaing dengan bisnis yang sejenis.

Jadi, investasi rumah melalui KPR bisa menguntungkan atau merugikan, yang perlu dilakukan adalah pemahaman terhadap bisnis properti dan perhitungan yang cermat. Investasi rumah sama seperti investasi lain, untung rugi adalah bagian yang tidak terpisahkan, tergantung cara kita mengelolanya.

Selamat berinvestasi rumah melalui KPR, semoga sukses.
READ MORE - INVESTASI PROPERTY MELALUI KPR